Tuesday, April 18, 2006

Sarwono: "Jakarta Terdesak!"



‘Jakarta Terdesak!’


Jakarta akan genap berusia 477. Salah satu hadiah yang cukup bernilai bagi Ibukota ini adalah empat orang Senator perwakilan DKI yang dipilih langsung oleh publik. Banyak yang berharap kehadiran mereka—Mooryati Soedibyo, Marwan Batubara, Biem Benyamin dan Sarwono Kusumaatmadja—akan memperkuat daya tawar publik terhadap perumusan kebijakan pembangunan di DKI .

Apakah demikian?

WartaBisnis menemui Sarwono Kusumaatmadja, salah seorang Senator dari DKI Jakarta, Jum’at 28 Mei 2004 lalu untuk sebuah wawancara. Tujuannya adalah untuk mendapat gambaran apa sebenarnya masalah yang sangat mendesak dirasakan oleh publik Jakarta dan bagaimana hal itu ditangani. Dalam wawancara lebih dari satu jam di kantornya sebagai salah seorang penasihat Dewan Maritim, di Jakarta, ia menjelaskan bahwa orang Jakarta sebenarnya seringkali terganggu oleh hal-hal kecil. Sebut contoh, transparansi kebijakan publik, antara lain dalam pengurusan surat-surat tanah, SIM dan sejenisnya. Masalah lain, menurut dia, yang banyak dikeluhkan konstituennya adalah kelangkaan minyak tanah, tingginya angka pengangguran dan musibah banjir. Berikut ini penuturan Sarwono kepada wartawan WartaBisnis Eben Ezer Siadari, Agung Marhaenis dan wartawan foto Alfian Kartim.

Andrew Steer



Indonesia Sudah Keluar dari Krisis

Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Andrew Steer, bicara blak-blakan tentang aneka soal, mulai dari pencabutan subsidi BBM, defisit APBN dan peran investor domestik dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Sidang Consultative Group on Indonesia (CGI) akan berlangsung 19 Januari 2005 nanti di Jakarta. Sidang antara Pemerintah dengan forum negara-negara donor untuk Indonesia itu antara lain akan membicarakan komitmen pinjaman dari para negara donor. Itu sudah cerita rutin. Namun, kali ini sidang CGI mempunyai format berbeda. Sidang akan dipimpin oleh Pemerintah Indonesia, bukan oleh Bank Dunia sebagaimana dulu. Apakah perubahan ini akan sangat menentukan?

Bagi Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Andrew Steer, jawabannya adalah ya. Sebab dengan demikian agenda sidang akan ditentukan oleh Pemerintah. Memang sebelum sidang, sudah berlangsung diskusi antara Bank Dunia dan pihak Pemerintah. Tetapi keputusan tentang agenda sidang ada di tangan Pemerintah. "Pemerintahlah yang memutuskan apa yang akan dibicarakan. Kami membantu untuk mewujudkannya," kata Andrew Steer.

Bertubuh jangkung dan ramping, Andrew Steer agak berbeda dibanding sejumlah country director Bank Dunia pendahulunya. Steer berpembawaan lebih riang dan kocak, banyak membuat lelucon bahkan dalam forum yang sangat serius. Ini tampaknya banyak membantu melembutkan citra Bank Dunia yang selama ini dikesankan serba serius dan agak tertutup. Di bawah kepemimpinan Steer, Bank Dunia perwakilan Indonesia tampil lebih bersahabat dan low profile. Itu bukan hanya tampak pada bagaimana Bank Dunia melayani wartawan, tetapi juga terlihat dari bagaimana Steer mengemukakan pendapatnya tentang aneka kebijakan Pemerintah.

Tong Djoe



"Kalau You Takut Susah,
You jadi Susah"


Tong Djoe, ‘pengusaha di segala rezim,’ pelobi ulung dan pialang revolusi, bicara tentang presiden-presiden yang pernah dia bantu. Juga rahasia bagaimana ia tetap survive walau zaman berubah.

Kini usianya sudah 79. Ramping, lincah dan segar, ia masih bisa berjalan dan bergegas dengan cepat, misalnya, untuk mengejar suatu acara. Pada beraneka perhelatan, tiap orang yang menyapa dia selalu dia balas dan layani dengan ramah. Tetapi ia selalu punya kata-kata yang elok untuk segera dapat berpamitan, sehingga ia bisa melenggang kembali menemui kenalan-kenalannya yang lain.
Itulah Tong Djoe, pengusaha ‘segala rezim,’ yang bisnisnya dan peranan dirinya tampaknya tak lekang dimakan waktu. Ia sudah berbisnis sejak zaman Bung Karno. Ia dikenal sebagai pelobi ulung di kalangan pemerintahan dalam dan luar negeri. Dari dulu hingga sekarang. Ia mempertemukan sejumlah presiden Indonesia dengan kepala negara lain. Ia menjembatani penguasa dan pengusaha. Foto-foto dirinya di kantornya, menunjukkan bagaimana ia kerap menjadi orang di belakang layar dalam tiap pertemuan penting sejumlah kepala negara.
Di usia 17, Tong Djoe sudah bekerja di kapal. Di masa revolusi ia membantu perjuangan kemerdekaan dengan menyuplai bahan sandang, pangan, bangunan dan senjata. Ia adalah satu dari pengusaha yang dekat dengan Soekarno, sebagian karena jasa-jasanya membantu revolusi. Seorang ahli sejarah, Mestika Zed, bahkan menjulukinya sebagai ‘pialang revolusi’ karena jasanya menjembatani kelebihan pasok pangan di Sumatera untuk dialihkan ke Jawa yang justru kekurangan.
Di zaman Soeharto, bisnis Tong Djoe tetap berkibar, walau ia mengaku tidak akrab dengan ‘jenderal tersenyum’ itu. Tong Djoe justru dekat dengan salah satu orang dekat Pak Harto, Ibnu Sutowo, pendiri dan direktur utama pertama Pertamina. Menekuni bisnis perkapalan, Tong Djoe membangun Grup Tunas, grup bisnis yang namanya adalah pemberian dari Ibnu Sutowo. Tunas adalah perusahaan pertama Tong Djoe di Singapura yang cukup disegani. Gedung Tunas di Anson Road, Singapura, pada 1973 (ketika selesai), bertingkat 31, merupakan gedung tertinggi di Singapura waktu itu.
Di zaman Abdurrahman Wahid menjadi presiden, nama Tong Djoe berkibar penuh, terutama karena sang presiden banyak memintai nasihat dari dirinya. Tong Djoe, misalnya, pernah dimintai pendapat oleh Gus Dur tentang bagaimana mengajak kembali pengusaha Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Atas jasa Tong Djoe pula Menteri Senior Lee Kuan Yew bersedia diangkat jadi penasihat presiden Indonesia. "Sayangnya, dia diangkat sebagai penasihat tetapi nasihatnya tidak pernah diminta. Seharusnya undang dong dia ke sini," kata Tong Djoe, mengenang.
Kamis, 19 Agustus 2004, lewat percakapan telepon yang singkat, WartaBisnis tak menemukan kesulitan membuat janji wawancara dengan dirinya. "Datang saja besok, jam lima," kata dia sembari memberitahu alamat kantornya di jalan Gunung Sahari Jakarta. Wawancara itu hampir saja batal, karena ketika ditemui di tempat yang ia janjikan keesokan harinya, Tong Djoe sudah bersiap hendak berangkat ke sebuah pameran lukisan. "Maaf. Saya harus menghadiri pameran itu," kata dia. Tetapi ia tidak kehabisan akal. "Bagaimana kalau kita berbincang sambil berangkat ke pameran itu?," usul dia. Sebuah tawaran yang harus diterima, karena Tong Djoe tak punya banyak waktu lagi. Setiap Jum’at, dia kembali ke Singapura untuk ‘kembali’ lagi ke Jakarta pada hari Seninnya.
Maka wartawan WartaBisnis Eben Ezer Siadari dan Agung Marhaenis mewawancarai Tong Djoe di perjalanan yang macet menuju hotel Sahid Jakarta. Tak mudah mengikuti alur bicaranya yang sering melompat-lompat serta Bahasa Indonesia-nya yang kelihatannya banyak dipengaruhi dialek Singapura dan Malaysia. Di pameran itu, ternyata perhatiannya tak bisa ia pusatkan pada lukisan-lukisan. Ia mengajak WartaBisnis duduk di pojok sebuah kafe, memesan minuman dan siap ditanyai lebih banyak. "Masih banyak waktu untuk lukisan-lukisan itu. Sekarang, saya ingin berbicara dengan Anda, sahabat-sahabat saya yang baik," kata dia, sambil memesan jus jeruk dingin. Satu jam kemudian WartaBisnis baru diizinkan pamit.
Berikut ini petikan wawancara tersebut.
Anda dikenal sebagai pengusaha yang mampu bertahan sejak Indonesia merdeka hingga sekarang. Rezim berganti tetapi Anda tetap bisa dekat dengan penguasa. Kenapa Anda bisa?
Tong Djoe
: Caranya kita bangun bersama, kita bikin bersama. Saling menghormati orang, bikin orang untung. Kalau ada sesuatu kekurangan dia, kita ingatkan. Dia dengar baik, kalau tidak dengar kita sudah sampaikan.
Anda masih sering bertemu dengan keluarga Bung Karno?
Kalau dulu masih. Ya, sekarang tetap lah.
Diantara keluarga itu siapa yang paling dekat?
Ya Guntur lah. Guntur baik.
Kenapa bukan Ibu Mega?
Dulu kan Fatmawati titip dia kepada saya. Jadi ya bagaimana pun saya sangat menghormati dia. Dia masih anggap saya Om. Maka itu kita tidak ada siapa yang salah yang benar. Orang itu sering salah mengerti tentang kedekatan saya dengan para penguasa. Seperti dulu, Fatmawati bilang, "Tong Djoe ini anak-anak dititip ke Tong Djoe." Lalu itu disalah mengerti. Dulu ada pembantu Pak Harto bertanya kepada saya kenapa Tong Djoe melindungi keluarga Bung Karno? Padahal itu kan karena dititipkan kepada saya. Tetapi di situ saya menghormati Pak Harto. Dia merangkul. Kita jangan salah-menyalahkan. Kita sering cepat emosi, cepat iri hati, cepat tersinggung. Jadi kadang-kadang kalau butuh, kita gampang janji, tapi kita suka cepat lupa. Ini saya cerita pengalaman. Ini saya tidak ada bersangkutan sama siapa. Mari kita bersama membangun rumah kita supaya besok Indonesia lebih baik. Termasuk saudara. Jangan mengadu satu dan lain. Nanti menyesal dan kecewa. Itu yang harus diperhatikan.
Anda sempat juga dekat dengan Pak Harto?
Dulu dengan Pak Harto kurang dekat. Ibu Tien pernah bilang kenapa tidak datang ke rumah kita? Saya bilang Bapak dan Ibu masih sibuk, saya tidak ingin bikin Bapak dan Ibu semakin sibuk.
Jadi kurang dekat?
Ya kita hormat dengan dia. Dia orang kerja dengan baik. Dia kerja benar. Cuma rakyat belum mengerti.
Maksudnya?
Misalnya maju untuk pembangunan. Namun ada satu kekurangannya, pembangunan dilakukan bertumpuk di pusat. Maka saya bilang waktunya Bapak membangun daerah. Untuk apa? Untuk membuat antardaerah itu makin lama makin dekat. Misalnya kamu punya, saya tidak punya. Saya akan iri.
Anda juga dikenal dekat dengan Gus Dur. Bisa cerita?
Dia punya bapak kan dekat dengan saya. Dulu bapaknya menteri agama.
Ketika itu Anda sebagai apa?
Saya dulu sebagai orang bebas. You tanya orang lain lah Tong Djoe siapa.
Apa yang paling berkesan dari Gus Dur?
Dia mau kerja baik. Tapi dia sendiri. Sebab mata dia kurang lihat. Akhirnya dia sendirian. Dia ingin supaya bangsa ini maju. Habibie juga ingin bangsa Indonesia baik, ia membangun demokrasi.
Kalau dari Megawati apa yang istimewa?
Dia sudah mengalami. Dia kan satu-satunya yang lahir di Yogya. Sampai pindah kekuasaan. Dia mengalami ujian yang sedemikian. Begitu. Dia mengalami segala masalah, tapi ada bukti akhir-akhir ini menjadi tenang. Soal maju kan itu tergantung kita bersama-sama.
Dari SBY?
Dia tahu Indonesia adalah negara besar. Dia dari Angkatan Bersenjata. Cuma kita harus bilang dia berbuat apa untuk Indonesia, untuk rakyat.
Dari dua kandidat presiden ini, apa yang Anda harapkan?
Yang penting untuk rakyat itu adalah punya pekerjaan. Lalu menyediakan suatu ketenangan. Setelah itu, agar orang percaya pada pemerintah, maka pemerintah harus memperhatikan dan memelihara rakyat, antara lain dengan membuat biaya pendidikan murah. Kita harus mengetahui bahwa Indonesia itu lama dijajah. Sekarang kita mau betul-betul kita dikasih kesempatan untuk pendidikan. Kesempatan untuk berusaha. Dulu kita kan masih bayi, sekarang kita kan sudah jadi ‘tuan rumah’. Kita tentu tahu apa kekurangan dan kelebihan kita, supaya kita isi-mengisi. Tidak ada apa yang dikatakan itu musuh. Itu enggak ada. Kita mesti saling percaya, saling menghormati, saling mengisi.
Sebagai seorang sesepuh masyarakat Tionghoa, Anda punya keinginan khusus tentang bagaimana kebijakan pemerintah terhadap masyarakat minoritas, seperti Anda?
Itu bukan soal Tionghoa-nya. Yang perlu diperhatikan adalah di Indonesia itu tidak ada pemisah-misahan satu dengan lainnya. Jangan kita dipisahkan. Setiap warga negara berhak dan berkewajiban supaya rumah ini tenang dan berwibawa.
Tetapi dikabarkan masih banyak teman-teman Anda yang belum pulang ke Indonesia. Bagaimana cara mengajak mereka kembali?
Oh itu lain. Kalau dagang internasional itu persoalannya kita mesti bikin orang percaya, kita harus bikin orang merasa aman. Sebagai pemerintah berikanlah contoh yang baik. Itu yang penting. Semua manusia dan warga negara menginginkan rumah tangga yang baik. Sopan dan ajak anak-anak menjadi anak yang baik. Tidak ada yang ingin rumah kita dirusak sendiri. Dulu Gus Dur tanya kepada saya, "Tong Djoe, kenapa orang Tionghoa lari?" Saya bilang pasti lari dong. Kalau orang tidak punya senjata untuk mempertahankan diri sendiri, lalu dipukul, apakah Anda tidak akan lari? Tetapi saya katakan mereka harus pulang. Ini kan rumah mereka, masak enggak pulang? Tetapi kita mesti bikin ketenangan. Nanti orang pulang sendiri.
Dari dua kandidat Presiden, siapa yang menurut Anda paling mampu mewujudkan ketenangan yang Anda katakan?
Ya dua-dua saya kira tujuannya sama. Cuma caranya berlainan, hidup berlainan. Mungkin kalau saya jalan di sini lebih cepat, yang situ lihat bisa lebih cepat.
Anda berbisnis di sektor maritim. Bagaimana sebaiknya memajukan sektor ini?
Kita dulu tidak punya apa-apa toh bisa. Dulu pemerintah kan belum tahu. Semua armada pelayaran orang asing punya, tetapi kenapa bisa jadi kita? Pengangkutan juga mahal waktu itu. Pengangkutan lebih mahal dan minyak. Hanya, pemerintah minta orang asing ini menentukan pengangkutan berapa minyak berapa. Maka di maritim kita mulai bertanggung jawab dan mulai bangun PELNI. Waktu itu kita masih kurang pengalaman. Seperti ketika Ibnu Sutowo membangun industri minyak. Tetapi Anda lihat, sekarang orang-orang hidup di situ. Sayangnya orang-orang masing-masing ribut sendiri. Kita mau bilang apa?
Sebaiknya negara Maritim mana yang bisa kita contoh?
Bukan kita contoh. Kita punya hasil bumi. Kalau kita tidak punya pengangkutan kita kan tergantung orang. Kita dulu tidak punya apa-apa bisa bikin sampai hari ini punya apa-apa. Minyak, misalnya, dibangun Pak Ibnu dengan teman-temannya. Tapi waktu itu sepaham dan sehati.
Sekarang tampaknya sebaliknya, saling berebut. Misalnya, kini ada kontroversi tentang siapa yang harus menguasai pelabuhan…
Jangan lah. Jadi jangan, tiba-tiba bagi ini, bagi ini. Nanti lama-lama kita dipotong (seperti) kue. Kita harus hati-hati. Otonomi daerah itu baik, tetapi harus satu kebijakan. Kasih satu hak supaya bisa berkembang. Tapi kita mesti punya master print yang jelas. Apa sudah perlu dibangun atau belum waktunya dibangun? Kita harus hitung kebutuhan internasional apa. Itu orang selalu bisa bilang kaya. Orang kaya itu tidak selalu uang. Ini hari bisa punya uang, besok tidak punya uang. Kaya yang sebenarnya adalah yang tak bisa dirampas orang. Itu baru kaya. Tidak bisa dirampas orang itu apa? Seperti adik-adik punya kepandaian. Punya sahabat, hubungan, itu yang tak bisa dirampas orang. Kalau yang kaya itu uang itu tidak bisa terus. Uang itu hanya kertas.
Anda kelihatannya menyimpan kekecewaan. Ada cita-cita Anda yang belum tercapai?
Kalau Indonesia belum maju saya sedih.
Maksud kami, ada cita-cita pribadi yang belum terwujud?
Apa sih. Tidak ada yang susah.
Sudah tercapai semua?
Bukan tercapai semua. Kita sudah berusaha dan tidak macam-macam. Kalau kerja jangan takut susah. Kalau you takut susah, you jadi susah. Siapa pun bisa habis. Yang penting bisa kerja.
Masih berhubungan dengan teman-teman pengusaha?
Masih. Tidak ada pengusaha yang tidak dekat dengan saya. Kita saling berkawan, saling bisa berusaha untuk baik. Kita jangan berkelahi, kita berkawan saja.
Siapa pengusaha yang paling dekat dengan Anda, Om Liem?
Om Liem itu dia banyak bantu orang. Tapi saya selalu ingatkan sejak dulu tahun 80-an, jangan terpaksa. Banyak orang ingin jadi dia. Jadi kita kasih kesempatan orang yang ingin dibantu, yang ingin maju. Dulu pernah ada orang yang paling kaya Oei Tiong Ham. Di zaman Bung Karno semua hartanya disita. Itu karena politik. Nama dari politik itu apa? Kuasa. Kuasa untuk apa? Membuat undang-undang. Kalau ada kuasa membuat undang-undang itu berarti ada kuasa mengubah yang benar.***
© Eben Ezer Siadari dan WartaBisnis No 30, September 2004

Monday, April 17, 2006

Robby Djohan




Beri Kesempatan kepada Anak-anak Muda

Robby Djohan mendesak agar bankir-bankir tua memberi kesempatan kepada yang muda-muda untuk memimpin. Ia sendiri kini serius memikirkan masalah pendidikan dan nasib orang-orang kecil.

Sinar matahari berlimpah menembus ruang kerjanya yang luas, berdinding kaca, di lantai 25 gedung Graha Niaga Jakarta. Meja kerjanya berada di tengah ruangan. Dari sana Robby Djohan bisa memandang ke bawah, ke jalan raya yang siang itu disesaki kendaraan bermotor. Kelihatan sekali ia ingin menikmati ‘masa pensiunnya’ dari cara berpakaiannya: kemeja bergaris biru-putih-coklat dengan celana kanvas coklat. Ia bersepatu sandal dengan kaos kaki coklat, cocok sekali dengan gaya bicara lu gua lu gua, kebiasaannya.
Robby Djohan, siapa di dunia bisnis yang tak kenal nama itu? Puluhan tahun ia membangun Bank Niaga dari sebuah bank tak dikenal menjadi bank penghasil bankir-bankir top di Indonesia. Dalam hal ini bandingannya mungkin hanya lah bank-bank asing, seperti Citibank. Kadernya ada dimana-mana. Mulai dari Arwin Rasyid, kini di Bank BNI, Agus Martowardoyo di Bank Permata, Emirsyah Sattar di Bank Danamon dan banyak lagi. Ia sempat dijuluki sebagai bankir paling berkuasa ketika ia menjadi direktur utama Bank Mandiri, gabungan dari empat bank BUMN. Ia pula yang ‘menyelamatkan’ Garuda di masa akhir Pemerintahan Soeharto.
Namanya mulai dikenal ketika kariernya melesat di Citibank, di akhir tahun 60-an. Ia merupakan orang Indonesia pertama di bank itu yang mengikuti Executive Development Program. Program semacam itu pula yang ia adopsi dan dia bawa ke Bank Niaga. Para koleganya menganggapnya sebagai leader pencipta leader. Banyak yang mengingatnya sebagai orang yang temperamental, suka marah dan sangat dominan. Namun, itu justru menambah wibawanya, mengingat telah banyak pekerjaan berat yang ia selesaikan.
"Gua sebenarnya nggak mau terima lu. Tetapi nggak tahu kenapa gua jadi mau ngomong. Mungkin kepancing kali, " kata dia ketika menerima Eben Ezer Siadari dan wartawan foto Alfian Kartim dari WartaBisnis, di ruang kerjanya, Jum’at, 8 November. Ia mengaku sedikit pusing, hal yang menurut dia, kerap ia alami setiap kali puasa. "Oksigen terhambat masuk ke otak saya," katanya. Di meja kerjanya bertumpuk buku-buku teks, bahan kuliah yang akan ia bawakan di program pasca sarjana FE-UI. Mengajar baginya menjadi kenikmatan sendiri, karena dengan demikian ia bisa ‘belajar’ lagi. Mahasiswanya menyenangi dia karena ia tak lagi cerita tentang teori, tetapi teori yang dipraktekkan.
Sepanjang wawancara intonasi suaranya bervariasi, dari keras, pelan, tinggi dan rendah. Di hadapannya ada telepon, tetapi ia lebih suka berteriak memanggil sekretarisnya, di sebelah ruang kerjanya. Gaya bicaranya penuh, bahkan seperti terlalu percaya diri. Tetapi itu menjadi jauh dari kesan sombong, mengingat track record yang sudah ia torehkan. "Ngapain gua masuk partai, gua lebih jago dari partai," kata dia, ketika ditanyakan mengapa ia tak aktif di kegiatan politik. Berikut ini cuplikan wawancara sepanjang lebih dari satu jam itu.

Apa kegiatan Anda sekarang?
Robby Djohan
: Saya melihat banyak sekali perusahaan yang secara operasional masih sehat. Produknya masih bisa dijual, masih ada market, tetapi karena ada persoalan ekonomi, mereka jadi terpengaruh. Mereka menghadapi persoalan finansial, terutama cashflow. Yang kedua adalah mismatch pengelolaan dana dan cukup banyak yang tidak bisa bayar. Maka lewat sebuah kelompok bersama beberapa orang rekan -- mereka dulunya kawan-kawan yang kerja di Citibank, Bank Of America, Chase -- kami membantu restrukturisasi keuangan beberapa perusahaan. Kami bicara dengan manajemennya. Kalau soal restrukturisasi keuangan saya mengertilah. Selain itu banyak waktu saya pakai untuk mengajar. Boleh dikatakan waktu saya 50:50 antara mengajar dan bekerja. (Atas permintaan Rhenald Kasali, Robby mengajar di program pasca sarjana FE UI setiap hari Rabu dan Jum’at, Red)
Seberapa besar skala perusahaan-perusahaan yang Anda bantu itu?
Asetnya di atas Rp100 miliar lah. Kami membantu dalam restrukturisasi keuangan saja. Saya tidak ikut dalam proses manajemen.
Bagaimana biasanya Anda memberi saran dalam penyelesaian masalah mereka?
Problem mereka pada umumnya masalah keuangan. Jadi cashflow. Apa kah akan ditutup dengan meningkatkan modal atau meminjam. Kalau dia pinjam, costnya akan naik. Dan siapa yang mau memberikan pinjaman kalau mereka masih mempunyai problem keuangan. Jadi restrukturisasi itu adalah segala-galanya. Jadi okelah, kita membeli kredit Anda secara lebih murah, kita bayar kepada kreditor lama, nah kemudian kita menambah kredit, tetapi kita harapkan dia (pemilik, Red) juga menambah modal. Jadi restrukturisasi itu bukan cuma kredit, tetapi perbaikan keseluruhan.
Darimana Anda mendapatkan klien, apakah Anda ditugaskan oleh bank?
Kita cari sendiri. Kita tidak tergantung. Kalau ada market, kita masuk. Yang kita tangani juga tidak terlalu banyak, ada empat atau lima lah. Satu perusahaan biasanya kita restrukturisasi empat sampai lima bulan.
Selain itu, apa rencana-rencana baru Anda?
Kok orang tua punya rencana baru. Serahkan pada anak-anak muda. Mimpi saya adalah begitu banyak anak muda di negeri ini, beri mereka kesempatan untuk mewujudkan mimpi mereka.
Ya, tetapi orang sering mengatakan kita belum punya banyak bankir berkualitas, seperti Anda….
Banyak Ribuan. Banyak. Baaaaaanyak. (Robby berkali-kali mengatakan kata banyak). Cuma nggak diberi kesempatan. Seribu bisa saya kasih kamu. Umur 35-40 an. Jadi saya berharap paling tidak yang tua sudah mempersiapkan penggantinya. Langsung mundur tidak mungkin. Tetapi terfikir kah oleh dia siapa yang menggantikannya? Kalau tidak terfikir, dosa itu. Ketika saya tinggalkan perbankan, begitu banyak yang sudah jadi andalan. Itu kebanggaan terbesar yang saya dapat. Bisa nggak orang lain ngomong demikian?.
Jika melihat perbankan kita sekarang, bagaimana Anda menilainya, apakah semakin maju?
Apanya yang maju? Semua masih mengandalkan obligasi rekapitalisasi. Masih konsolidasi. Tetapi kalau Anda bertanya bila dibandingkan tahun 2000 apakah kita sudah maju, oke. Tetapi dibandingkan sebelum krisis, dulu jauh lebih baik. Tetapi saya orang yang optimistis. Dan sekarang adalah kesempatan untuik memikirkan suatu paradigma baru. Biarkan perbankan dikembangkan oleh anak-anak muda. Bank Mandiri mengapa maju? Karena banyak anak muda yang pegang. Dirigennya oke lah Neloe, tetapi dia juga tahu harus mempersiapkan the future generation.
Oh ya, Anda yang ‘membidani’ Bank Mandiri. Bagaimana pendapat Anda tentang bank itu sekarang?
Saya kira cukup baik. Saya tidak tahu mendalam. Tetapi kalau lihat profitabilitasnya bagus dan kemudian mimpi saya tentang IPO Bank Mandiri menjadi kenyataan. Jadi saya menilai itu cukup baik. Jadi saya kira ECW Neloe cukup kompeten. Yang perlu difikirkan lagi untuk Bank Mandiri adalah suatu paradigma yang baru, dimana Bank Mandiri tidak hanya memikirkan hanya profitabilitas, hanya growth, tetapi suatu paradigma baru. Yang saya maksudkan adalah barangkali manajemen itu sudah dipegang oleh anak-anak yang muda, dengan background pendidikan yang lebih baik, otoritas lebih banyak diberikan. Jadi saya fikir Neloe sudah harus memikirkan kalau dia meninggalkan Mandiri, ada suatu paradigma baru di sana. Paradigma baru itu kan suatu kehidupan baru. Negara ini kan juga butuh paradigma baru. Sudah waktunya anak-anak muda ini menentukan hidupnya.
Maksud Anda, paradigma baru itu dirumuskan oleh yang muda-muda itu?
Dipersiapkan oleh Neloe dan krunya tetapi betul-betul anak muda, berpendidikan baik. Tidak jadi soal darimana pun dia, dari dalam atau luar. Yang penting mereka yang terbaik dan beri mereka kesempatan.
Anda dikenal mempunyai banyak kader….
(Robby cepat menukas) Di semua bank ada (kader Robby, Red). Sebut saja, Bank Niaga, Bank Danamon, BNI, BII, Bumiputera, Permata. Semua.
Apakah Anda secara sengaja, by design membentuk mereka?
Bahwa itu terjadi dan mereka sekarang berada di berbagai bank terkemuka, bukan. By design itu adalah ciptakan lah pemimpin sebanyak mungkin. Dan sebagai pemimpin nyatanya mereka kepake.
Sejak kapan Anda menyadari bahwa kader Anda itu itu kelak akan menjadi pemimpin seperti sekarang?
Tidak tahu. Yang penting adalah secara kultur mereka dikembangkan. Tidak saya karbit. Peter B. Stock (presiden direktur Bank Niaga, Red) sudah 20 tahun, sama seperti Agus Martowardoyo (dirut Bank Permata), Emirsyah Sattar (wapresdir Bank Danamon), Arwin Rasyid (direktur Bank BNI), itu kan kerja puluhan tahun. Mereka, ketika ada kesempatan menjadi pemimpin, kita berikan. Berikan kesempatan yang sebanyak-banyaknya.
Sering memarahi mereka ketika menjadi bawahan Anda?
Wah, itu sudah seperti makan obat, tiga kali sehari.
Biasanya karena apa?
Pengen aja marah. Artinya, saya didik mereka dengan keras.
Pekerjaan Anda yang paling mendapat perhatian adalah ketika membenahi Garuda dan Mandiri. Apa persoalan utama kedua BUMN itu?
Di Garuda itu image. Mengembalikan itu. Semua ada hubungannya dengan image. Operasinya harus baik, kapal terbang baik, keuangan baik. Image adalah yang pertamakali saya harus benahi. Kalau tidak siapa yang mau naik Garuda. Kalau di Mandiri persoalannya adalah bagaimana menggabungkan empat bank. Jadi saya banyak bicara struktur. Bagaimana strukturnya suapaya efisien.
Dulu Anda bukan hanya mengusulkan empat bank, tetapi Bank BNI juga ikut digabungkan.
Saya bicara dengan IMF. Mengapa susah-susah, mengapa BNI ditinggalkan. Mereka tidak bisa jawab. Nanti kegedean, kata mereka tetapi itu bukan jawaban.
Jika dikaitkan dengan skandal BNI sekarang, untung juga BNI nggak ikut…
Justru kalau ikut, itu nggak kejadian. Bagi saya jangan coba-coba.
Kembali kepada mencari orang, pertanyaan klasik untuk seorang CEO adalah bagaimana ia memilih orang-orang terbaiknya. Ketika membenahi Garuda, bagaimana Anda melakukannya?
Saya hanya bawa Emir. (Emirsyah Sattar, sekarang wapresdir Bank Danamon, Red). Kemudian saya lihat (di dalam) siapa yang lumayan,. Kemudian saya tetapkan target. Saya motivasi mereka dan saya beri kesempatan, full authority. Kalau dulu kan harus ditetapkan pimpinan….. Saya pecahkan saja birokrasinya.
Tidak banyak yang berani mendobrak, terutama bila harus berhadapan dengan kekuasaan pemegang saham. Sementara Anda tampaknya justru keras dalam hal ini. Mengapa?
Begini. Sebetulnya good corporate governance (GCG) itu banyak sekali harus mengatur shareholder. Karena mereka adalah pangkal probem di swasta atau pemerintah. Dulu pemerintah begitu kuasa mengatur manajemen. Begitu juga perusahaan milik swasta pri mau pun nonpri, sehingga manajemen hanya melakukan apa yang diinginkan shareholder. Jadi GCG itu seharusnya bagi shareholder. Oleh karena itu hubungan saya dengan shareholder, harus jelas. Kamu mengangkat direksi, kamu menyetujui budget, kemudian kamu menyetujui kalau ada pengeluaran di luar budget. Other than that, saya kerja berdasarkan budget. Jangan ikut-ikutan lagi dong. Kalau ikut, kamu aja deh yang manage, saya berenti. Jangan ada lagi. Nggak bakal benar. Shareholder kan nggak punya kemampuan manajemen.
Menurut Anda, ini masalah khas perusahaan Indonesia?
Itu adalah problem utamanya. Shareholder masih dominan. Saya kira dimana-mana juga begitu. Pemilik lah.
Bagaimana di Bank Mandiri dulu…
Saya di bawah Tanri dia mengerti. Saya bilang kepada dia, kalau shareholder lebih tahu biar saja shareholder yang mengerjakan. Jadi clear pemgertian dia dan saya, dan itu dikatakan sejak awal. Sebab sebagai CEO pun di Bank Mandiri tidak ada keistimewaan buat saya. Bahkan seperti kerja rodi saja.
Sekarang, jika ada yang meminta Anda untuk aktif kembali bidang apa yang ingin Anda geluti sebagai eksekutif?
Nggak ada. Gua pengen maen sama cucu saja. Saya tidak punya ambisi. Tetapi kalau negeri ini masih butuh, saya bersedia. Tetapi tentu bukan dalam posisi eksekutif. Sekarang saya sudah 65 tahun, saya mau ngapain lagi. Tetapi kalau Pemerintah menginginkan saya di suatu lembaga, yang berfungsi mengawasi proses, membuat perencanaan, saya setuju saja. Dan saya percaya negeri ini harus dipegang anak muda. Ngapain saya ikut-ikut.
Sekarang ini yang perlu kita fikirkan adalah bagaimana pendidikan anak-anak muda ini. Jangan fikirkan perusahaan atau pengusaha deh. Mereka bisa cari jalan keluar sendiri. Sekarang perlu difikirkan adalah anak-anak muda, sekolahnya. Petani-petani kita. Fikirkan lah orang-orang kecil itu. Bagaimana anak kecil melalui sistem pendidikan bisa maju. Bangun pendidikan sebanyak mungkin.
Menurut Anda belum banyak orang berfikir serius tentang ini?
Saya nggak tahu. Yang saya katakan fikirkan mereka. Dan itu saya mau.
Sudah punya pemikiran?
Seratus persen, 1000 persen. Orang tua kan ingin tinggalkan nama. Amalnya. Pendidikan menolong orang kecil, itu yang kita fikirin
Jadi Anda mau jika diminta menangani masalah ini?
Mau.
Sudah ada konsep?
Itu datang sendiri. Begitu saya ke lapangan…. (terhenti) Ke Garuda saya nggak ada konsep, tetapi delapan bulan beres. Konsultan ada konsep tetapi tidak bisa dia lakukan. Begitu saya turun, dan saya lihat persoalannya, bisa diperbaiki.

(c) Eben Ezer Siadari dan WartaBisnis No 21, Desember 2003

Karier Bankir Top
Nama: Robby Djohan
Tempat/Tanggal Lahir: Semarang, 1 Agustus 1938
Pekerjaan:
Kini giat mengajar dan menjadi konsultan keuangan. Juga menjadi komisaris di beberapa bank swasta.
Karier:
Direktur Utama Bank Mandiri (November 1998-)
Direktur Utama Garuda Indonesia ( Februari-Oktober 1998)
Presiden Direktur Bank Niaga (1984)
Managing Director Bank Niaga (1977-1983)
General Manager bank Niaga cabang Jakarta (1976)
Staf bagian umum, Citibank (1967)
Group Head, Citibank (1972-1976)
Pendidikan:
SD St Joseph, Medan
SMP Kanisius, Jakarta
SMP Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), Jakarta
SMA PSKD Slamet Riyadi, Jakarta
FE-UKI, Jakarta,
FE-Universitas Padjadjaran, Bandung
Ucapan Populer:
"Hubungan eksekutif dan pemegang saham harus jelas. Pemegang saham mengangkat direksi, menyetujui budget, menyetujui kalau ada pengeluaran di luar budget. Other than that, eksekutif kerja berdasarkan budget. Pemegang saham jangan ikut-ikutan lagi. Kalau ikut, dia aja deh yang manage, eksekutif berhenti saja.

Erry Ryana Hardjapamekas



‘Hampir Semua Orang Terkena Demam (Korupsi)’

Ia meninggalkan semua jabatannya sebagai komisaris di beberapa perusahaan untuk terjun menjadi wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut dia, korupsi seperti wabah. Ada yang terkena, ada yang hampir terkena dan pada umumnya semua orang terkena deman. Ia ingin KPK bekerja lewat sistem, bukan asal menggebrak.



Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), tiga kata yang sangat populer terutama di masa kampanye saat ini. Semua tokoh dan Partai Politik bicara tentang itu. Semua berjanji akan memberantasnya. Dan, semua merasa mampu melakukannya. Namun, manakala mereka bicara berapi-api tentang itu, tak ada yang menyinggung sedikit pun keterangan bahwa negeri ini sudah punya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang para pimpinannya secara resmi bekerja sejak akhir tahun lalu. Agak sepi dari publikasi, Komisi ini sebenarnya telah giat memapankan kehadirannya sebagai institusi. Mulai dari perumusan visi, misi dan mekanisme kerja mereka.
Jika menilik kehadirannya yang didasari oleh Undang-undang, dan pemilihan personilnya langsung oleh DPR, seharusnya KPK akan menjadi institusi yang memberi harapan. Apalagi wewenang yang ditaruh di pundak mereka demikian luas. Mulai dari melakukan koordinasi dan supervisi terhadap aparat pengawasan negara, membuat program pencegahan korupsi hingga melakukan penindakan dan kemudian pemantauan.
Terdiri dari lima orang majelis pimpinan (ketua dan empat wakil ketua) KPK akan dibantu oleh para staf profesional dan administrasi. Mulai dari jaksa, ahli hukum, polisi dan sebagainya. Saat ini, baru sekitar 50 orang yang bekerja di lembaga ini. Sebagian merupakan bantuan sementara: sembilan orang polisi, enam orang jaksa dan para profesional dari BPKP sebanyak 20 orang. Kelak, idealnya KPK akan mempunyai staf tak kurang dari 200 orang. Mulai April ini, perekrutan akan mereka lakukan.
Salah seorang dari wakil ketua KPK, Erry Riana Hardjapamekas, meluangkan waktu menerima Eben Ezer Siadari, Deden Setiawan, Agustaman dan wartawan foto Alfian Kartim dari WartaBisnis. Erry adalah wakil ketua yang membidangi pengawasan internal dan pengaduan masyarakat di KPK. Mengenakan kemeja batik dengan sesekali mengepulkan asap rokoknya, Erry Riana kelihatan lebih segar sore itu. Mantan Direktur Utama PT Timah Tbk dan aktivis di Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) ini dengan panjang lebar bicara tentang institusi itu, di ruang kerjanya. Mengambil tempat di gedung sekretariat negara yang dahulu digunakan oleh B.J. Habibie selagi menjadi menteri negara riset dan teknologi. Gedung yang gagah dan besar, agak kontras dengan sepinya lobby yang luas dan halaman parkir yang melompong. Tidak ada papan nama yang mencolok yang menandakan di sana berkantor sebuah institusi yang punya kekuasaan besar.
Berikut ini petikan wawancara tersebut.
Sekarang ini semua parpol bicara tentang pemberantasan KKN. Apa pendapat Anda sebagai wakil ketua KPK tentang hal ini?
Erry Riana Hardjapamekas
: KPK hadir ketika korupsi muncul sebagai tindak pidana yang luar biasa yang tidak mampu ditangani oleh penegak hukum yang ada. Dengan alasan-alasan yang masuk akal, seperti adanya keterbatasan-keterbataasan teknis ataupun non teknis yang dimiliki mereka. Atas dasar itu muncul KPK. Ini kan prosesnya lama. Muncul tiga tahun lalu. Sampai pada tahun 2002 diterbitkan UU no. 30 tentang pembentukan KPK. UU ini diterbitkan oleh para wakil rakyat yang terdiri dari berbagai partai politik. Kami mengasumsikan ini sudah jadi komitmen para penyelenggara negara. Maka kalau sekarang parpol berteriak mengusung anti korupsi, tentu saya menyambut gembira. Tinggal persoalannya adalah, sering kali kita pandai berkata-kata tetapi kurang piawai dalam tindakan nyata. Yang kita tunggu adalah tindakan nyata dari mereka jika terpilih kelak. UU secara tegas menyebut KPK itu independen, tidak dapat dipengaruhi kekuasaan manapun.
Sampai dimana sebenarnya kewenangan KPK dalam menangani kasus KKN?
Kewenangannya yang utama itu ada lima. Yang pertama adalah koordinasi. Yang dikoordinasikan adalah semua aparat penegak hukum tindak pidana korupsi termasuk aparat pengawasan seperti Kejaksaan Agung, Kepolisian, BPK, BPKP, irjen-irjen dan aparat pengawasan pemerintah di non departemen. Kedua, supervisi. Melakukan supervisi atas pekerjaan-pekerjaan mereka. Kemudian yang ketiga pencegahan. Keempat penindakan, kelima pemantauan. Dalam melakukan koordinasi dan supervisi kami memantau sejauh mana kinerja sistem administrasi pemerintahan termasuk penyelenggara negara. Apabila ada kelemahan dari sistem itu yang menyebabkan tindak pidana korupsi, Maka KPK berwenang untuk merekomendasikan perbaikan.
Apakah KPK akan melakukan penyidikan?
Itu ada di penindakan. Kalau kita lupakan koordinasi, supervisi dan pemantauan, ujungnya tinggal dua, pencegahan dan penindakan.
Misalnya ada laporan dari BPK ada suatu lembaga negara melakukan tindak pidana korupsi, lalu lapor ke KPK, apakah KPK menindaklanjuti?
Bisa ke KPK atau kejaksaan, atau polisi, itu tidak ada masalah. Siapa saja. KPK tidak memonopoli. Cuma seandainya hasil koordinasi dan supervisi ini menunjukkan ada hambatan dalam penanganan tindak pidana korupsi, KPK berwenang untuk mengambil alih dalam keadaan luar biasa dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Kasus yang ditangani oleh KPK adalah kasus yang secara signifikan besar, dan syaratnya tiga, pertama, menyangkut pelanggaran hukum oleh penyelenggara negara atau penegak hukum, dan pihak-pihak yang bersangkutan dengan pelanggaran hukum itu. Kedua, menarik perhatian dan meresahkan masyarakat, dan atau ketiga nilainya Rp1 miliar atau lebih.
Contohnya?
Kita belum punya yang riil. Tetapi sebagai contoh ada dugaan penyelenggaraan haji. Kesatu itu dilakukan oleh penyelenggara negara, kedua pasti menarik perhatian dan meresahkan masyarakat karena pemakainya adalah masyarakat. Ketiga pasti secara kolektif lebih dari itu (Rp1 miliar, Red). Ini contoh, tidak menjadi kasus sekarang ini. Seringkali orang menterjemahkan pemberantasan dengan penindakan. Kapan nangkap orang, kapan ngurung orang. Padahal korupsi itu orang sudah menyebut sebagai budaya. Kami menyebutnya sudah mewabah. Seperti penyakit. Ada yang terkena, ada juga yang hampir terkena. Pada umumnya hampir semua terkena deman. Yang terkena ini umumnya sedikit. Itu yang harus ditindak. Yang tidak kalah pentingnya adalah yang masih demam.
Sejauh ini, apakah KPK sudah melakukan tindakan?
Sejauh ini kami baru pada tahap pendirian. Dan kita baru menempati kantor 5 Januari. Kita lagi rekrut orang, membuat, menjajaki pembelian perlengkapan, peralatan.
Kalau menindak itu dalam bentuk apa?
Tindakan itu ada tiga langkah, penyelidikan, penyidikan dan penuntutan. Penyelidikan itu seperti detektif lah. Mencari informasi. Kalau sudah penyidikan, itu lebih mengerucut lagi. Orangnya sudah ditetapkan sebagai tersangka.
Siapa yang menetapkan?
KPK. Kalau sudah ditetapkaan sebagai tersangka, tinggal kita bongkar saja. Kalau penyidikan itu berbuah positif, melanggar, maka berkasnya kita lanjutkan ke penuntutan. Yang unik adalah kasus yang ditangani KPK diadili oleh pengadilan khusus korupsi yang sekarang dalam proses pembentukan. Kira-kira bulan Juli terbentuk. Kita punya waktu empat bulan untuk menemukan kasus.
Jadi KPK yang bertindak sebagai jaksa?
Betul. Kami berlima ini sesuai UU menjadi juga penuntut umum. Tentu bukan kami yang melakukan. Kami merekrut orang karena yang boleh menuntut itu hanya jaksa. Dan salah satu yang direkrut adalah jaksa. Kami minta dari kejaksaan dan kejaksaaan sudah melakukan seleksi internal. Disiapkan 30 orang dan nanti akan kami seleksi lagi menurut metode kami. Mungkin bisa 10 atau 20 orang. Tergantung kebutuhan. Untuk penyelidik atau investigasi bisa polisi, pengacara, akuntan, ahli IT, ahli-ahli lain. Tulang punggungnya polisi dan pengacara.
Sejauh ini apakah sudah ada pengaduan?
Sudah banyak sekali. Ada 150 aduan dari seluruh Indonesia. Aduannya macam-macam.
Apakah semuanya memenuhi kriteria KPK?
Nggak semua. Banyak orang yang hanya berkeluh kesah. Misalnya, keluhan mengenai pemerimaan pegawai, money politics, ada juga korupsi.
Kira-kira bagaimana KPK menangani kasus-kasus yang diadukan itu?
Kita akan lakukan mulai intensif kira-kira bulan Juni. Kita akan bikin kampanye. Memberikan penyuluhan ke masyarakat. Kalau membuat pengaduan yang baik itu seperti apa. Toh kita tidak mau disibukkan oleh pengaduan yang sifatnya fitnah, iri dengki, emosional. Selama ini itu kita akomodasi. Siapa saja yang mengadukan kita terima. Dan akan kita tindak lanjuti. Itu kita alihkan sebagian besar ke Polda, Polres, ke Kejaksaan Tinggi dan sebagainya. Belum ada yang kami tetapkan sebagai kasus. Karena kita belum ada orangnya.

Sudah ada pengaduan yang masuk, tetapi mengapa KPK harus menunggu sampai Juni?
Karena pengadilan khusus korupsi itu baru dalam proses pembentuikan. Sekarang proses seleksi hakim Ad Hoc. Jadi majelis hakimnya ada lima, tiga hakim Ad Hoc. Artinya hakim yang bukan karier yang direkrut dari akademisi, pengacara dan sebagainya. Kita bisa menaruh harapan jika hakim Ad Hoc ini betul-betul kita percaya. Walaupun hakim karier juga tidak semuanya tidak bisa kita percayai.
Bila mengingat banyak yang pesimis kepada KPK tampaknya KPK perlu memunculkan kasus yang besar sehingga orang berpikiran ‘wah ini boleh juga nih’. Dan waktunya tinggal empat bulan. Apakah sudah ada persiapan? Dari 150 kasus yang masuk apakah tidak ada yang besar?
Ada, tapi terlalu kecil. Kami sedang mencari sendiri yang besar-besar. Dengan cara kita memetakan kasus-kasus korupsi yang ada. Mana yang layak kita tangani. Yang menjadi perhatian kita adalah tidak adanya mekanisme SP3. Itu bagus juga. Jadi kita harus ekstra hati-hati. Jadi memilih kasus yang rasio suksesnya tinggi. Itu yang akan kita ambil.
Kalau kasus korupsi di Bank BNI, misalnya, apakah masuk?
Definisi korupsi kan merugikan negara, melanggar hukum, menguntungkan diri sendiri atau kelompok, atau orang lain, orang lain itu bisa individu ataupun korporasi. Kasus BNI kan memenuhi syarat ketiga-tiganya.
Jadi itu akan ditangani oleh KPK?
Oh tidak. Itu kan sudah ditangani polisi dan sudah di Kejati. Kita tidak boleh intervensi.
Tetapi berarti kasus-kasus lama masih dapat dimunculkan?.
Iya, bisa juga yang sebelumnya.
Jika Anda ditanya sebagai pribadi, kasus korupsi mana yang paling baik untuk dimunculkan KPK?
Saya kira kasus yang memberikan kesan ke publik bahwa KPK bukan macan ompong. Syaratnya orangnya harus sering disebut-sebut orang, pelanggaran hukumnya cukup untuk diganjar dengan hukuman berat. Yang mana? Ya sudah jangan diterusin lagi dong pertanyaannya. Kalau off the record saya bisa lebih banyak. (Kemudian Erry bicara panjang lebar tentang berbagai kasus korupsi yang menarik perhatiannya, tetapi bukan untuk dikutip, Red)
Bagaimana KPK merumuskan keputusannya?
Keputusan KPK kolektif. Harus merupakan keputusan dari lima majelis pimpinan. Hasil mufakat.
Ada voting?
Iya. Misalnya rapim. Orang tidak hadir harus dengan alasan jelas misalnya ke luar kota. Ketika ambil keputusan, setidaknya tiga orangi harus setuju. Itu kalau voting. Ketua dan masing-masing wakil ketua tidak bisa memutuskan sendiri.
Tidak ada hak prerogatif?
Tidak ada, kecuali kita kasih mandat ke Sekjen untuk agenda rutin.
Kalau di MA kan ada dissenting opinion?
Di kita juga ada. Tapi kita usahakan selalu kompak lah. Kalau visi, misi dan nilai sudah sama, maka hilanglah persoalan itu.
Menurut UU KPK bertanggung jawab kepada publik. Kalau KPK melenceng bagaimana sanksinya?
Publik kan bisa menyampaikan kepada kepolisian dan kejaksaan. KPK bukan orang yang kebal hukum. Polisi dan jaksa bisa menangkap kami jika melanggar hukum. Dan UU ini juga mengatakan kalau Anda melakukan tindakan korupsi dihukum 10 tahun. Saya melakukan tindakan korupsi persis seperti dia, hukuman buat saya 13 tahun. Sepertiga lebih berat. Tapi harus persis sama.
KPK sebagai jaksa akan berpotensi berlawanan dengan pemerintah. Sementara budget KPK berasal dari APBN Bagaimana hal itu Anda bayangkan?
Ya ya. Oleh karena itu jika Anda baca kode etik itu kan ketat sekali. Itu untuk menjaga kita dari intervensi secara non teknis sebagai akibat keakraban.
Faktanya kan kalau ada kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi tidak lepas dari intervensi?
Justru itu, KPK dibentuk untuk mampu menghindari dari intervensi itu.
Kalau tidak bisa?
Ya harus bisa dong. Paling tidak kita punya modal. Kan kita dipilih oleh DPR secara transparan
Jika kasus korupsi yang diajukan tidak terbukti di pengadilan, bagaimana sikap KPK?
Kalau memang tidak terbukti, KPK harus kuat dong. Banding mungkin ke pengadilan tingkat berikutnya.
Tentang pencegahan korupsi , bisa Anda jelaskan apa akan dilakukan KPK?
Begini, kalau you ngomong polisi, pegawai rendah departemen, ngambil duit, ngutip duit itu kan kaarena alasan dapur. Ya gajinya dong dibetulin. Dibikin bangga menjadi pegawai negeri dan dibikin malu untuk minta duit. Dibikin mereka merasa aman. Itu satu-satunya jalan untuk memperoleh kesejahteraan. Tapi itu kan tidak sendiri. kita kasih wortel juga sticknya. Sekarang tidak ada dua-duanya. Kalau kasih wortel, juga sticknya. Dan sticknya itu benar-benar digunakan. Jangan wortelnya mau, sticknya tidak mau. Sistem pembinaan sumber daya manusia. Sistem itu harus mulai dirintis. Dan KPK punya kewenangan untuk mendesakkan sistem itu agar berubah. Saya berpendapat MA dulu, kejaksaan, kepolisian, guru, baru yang lain-lain seperti pegawai pajak dan bea cukai.
Kalau gaji pimpinan KPK sendiri seberapa besar?
Masih dalam tahap proses. Dalam tahap negosiasi dan sekarang ada di Sekretariat Negara. Karena harus ada PP. Akhirnya KPK sendiri yang menetukan. Dan ada plafon yang ditetapkan oleh Presiden.
Tetapi tadi Anda mengatakan budget dari APBN sudah turun, dan Anda belum tahu gaji Anda seberapa besar?
Anggaran itu baru digunakan untuk pembelian peralatan kantor.
Supaya KPK tidak ikut korupsi, gaji Anda seharusnya tinggi juga dong….
Iya. Tapi tidak sebesar BPPN. Yang lebih penting bukan duitnya. Tapi sistem pengendalian ke dalam. Termasuk mentalnya. Kode etik. Pengawasan yang ketat.
Untuk jadi pimpinan KPK, seseorang harus mundur dari semua jabatan sebelumnya. Anda kan komisaris di beberapa perusahaan, seperti Hero Tbk, Unilever, Semen Cibinong. Apakah Anda sudah mundur?
Itu harus dan sudah. Semua anggota juga.
Ada alasan mengapa Anda meninggalkan semua jabatan itu, yang notabene memberi penghasilan lebih besar?
(Tertawa). Kesatu, kalau kita nyari duit, kapan sih cukupnya. Kita kan tidak tahu. Kedua, kita –kita selalu berfikir, sebagai golongan menengah ini harus bersyukur karena langsung atau tidak langsung menikmati bantuan negara, baik ketika sekolah di SD, SMP, SMA. Kalau kita tidak peduli, terus siapa lagi. Kan kita golongan menengah ini yang diharapkan untuk berani berubah. Kita ini yang diharapkan untuk peduli. Ketiga, saya tergelitik, kita ini mau menunggu apa? Dan kalau saya nggak mau ada orang lain yang mau. Dan orang lain yang mau itu belum tau seperti apa nantinya. Bukannya orang lain tidak seidealis kita. Apabila kita mau, dan tahu apa yang kita kerjakan dan tahu risikonya, ya kita lakukan saja.
Bayangan kami selama ini Anda adalah orang bisnis. Ternyata kesini. Apakah sudah mantap di jalur pengabdian kepada publik?
Kalaupun saya misalnya tidak penuh empat tahun, minimal di tahun pertama atau kedua saya akan berperan menyeimbangkan dengan menegakkan sistem dan infrastruktur, dan nanti ada anak-anak muda yang lebih berani dan lebih brilian yang akan melanjutkan ini.
Apakah memang bisa tidak penuh selama empat tahun?
Bisa saja. kalau kita mengundurkan diri.
Ada kemungkinan itu pada Anda?
Ada, tergantung situasi. Kalau misalnya independensi kita diganggu oleh siapapun, disitu saya akan mulai teriak. Tentu tidak langsung mundur, keenakan juga yang intervensi.
Wah, orang bisa bilang Anda sebenarnya tidak serius…..
Kenapa? Kan waktunya empat tahun dan saya akan pertimbangkan dengan sungguh-sungguh jika independensi mulai diganggu. Kedua, misalnya ada ketidaksonsistenan dalam kepemimpinan, ketiga ada kegoyahan komitmen di penyelenggaraan negara, bisa di DPR, eksekutifnya. Itu lah kira-kira yang bisa membuat saya mundur
Sejauh ini apakah alasan itu Anda temukan?
Tidak. Masih baguslah. Tapi masih dipermukaan. Kita lihatlah. Sama dengan partai politik. Semua bilang dukung-dukung. Kita lihat nantilah. Memang poin penegakan ini menjaadi tuntutan banyak orang, mesti dididik kesabaran. Kita gebrak sekarang tapi tidak berlanjut juga tidak mendidik.
Kapan Anda mulai berfikir serius peduli pada pemberantasan korupsi?
Dalam empat tahun terakhir kan saya aktif juga di Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) dan di Transparancy International. Dalam pergaulan itulah muncul idealisme. Jadi dalam hal ini saya ada jalur dan pengalaman lah untuk duduk di KPK, karena sebagai LSM MTI memang antikorupsi. MTI juga yang mengusulkan saya ikut di KPK.
© Eben Ezer Siadari dan WartaBisnis, No 25 April 2004

Followers

About Me

My photo
suami yang kampungan di mata istrinya, ayah yang sering disandera putrinya untuk mendongeng.