Tuesday, April 18, 2006

Andrew Steer



Indonesia Sudah Keluar dari Krisis

Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Andrew Steer, bicara blak-blakan tentang aneka soal, mulai dari pencabutan subsidi BBM, defisit APBN dan peran investor domestik dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Sidang Consultative Group on Indonesia (CGI) akan berlangsung 19 Januari 2005 nanti di Jakarta. Sidang antara Pemerintah dengan forum negara-negara donor untuk Indonesia itu antara lain akan membicarakan komitmen pinjaman dari para negara donor. Itu sudah cerita rutin. Namun, kali ini sidang CGI mempunyai format berbeda. Sidang akan dipimpin oleh Pemerintah Indonesia, bukan oleh Bank Dunia sebagaimana dulu. Apakah perubahan ini akan sangat menentukan?

Bagi Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Andrew Steer, jawabannya adalah ya. Sebab dengan demikian agenda sidang akan ditentukan oleh Pemerintah. Memang sebelum sidang, sudah berlangsung diskusi antara Bank Dunia dan pihak Pemerintah. Tetapi keputusan tentang agenda sidang ada di tangan Pemerintah. "Pemerintahlah yang memutuskan apa yang akan dibicarakan. Kami membantu untuk mewujudkannya," kata Andrew Steer.

Bertubuh jangkung dan ramping, Andrew Steer agak berbeda dibanding sejumlah country director Bank Dunia pendahulunya. Steer berpembawaan lebih riang dan kocak, banyak membuat lelucon bahkan dalam forum yang sangat serius. Ini tampaknya banyak membantu melembutkan citra Bank Dunia yang selama ini dikesankan serba serius dan agak tertutup. Di bawah kepemimpinan Steer, Bank Dunia perwakilan Indonesia tampil lebih bersahabat dan low profile. Itu bukan hanya tampak pada bagaimana Bank Dunia melayani wartawan, tetapi juga terlihat dari bagaimana Steer mengemukakan pendapatnya tentang aneka kebijakan Pemerintah.


Untuk mengetahui pandangan dan harapan Steer seputar perekonomian Indonesia, Eben Ezer Siadari dari WartaBisnis menemui dan mewawancarai dia secara khusus seusai acara penandatanganan kerjasama penyaluran hibah dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Indonesia, di kantor Bank Dunia, Rabu 1 Desember. Sambil berdiri dengan santai, bersandar ke dinding ruang pertemuan, selama 30 menit Steer menjawab sejumlah pertanyaan WartaBisnis. Berikut ini petikan wawancara tersebut.

Sidang CGI akan berlangsung tahun depan. Apa agenda sidang itu dari sisi Bank Dunia?

Andrew Steer:
Kami baru pada tingkat diskusi dengan Pemerintah Anda tentang apa yang perlu dibicarakan dalam sidang tersebut. Tetapi Pemerintah Indonesialah yang memimpin sidang nanti. Jadi kami menunggu apa yang akan dibicarakan.

Apakah memang ada bedanya jika Indonesia yang memimpin?
Indonesia sekarang sudah keluar dari krisis. Indonesia sedang berusaha meningkatkan pertumbuhan ekonominya dan Indonesia tampaknya semakin percaya diri, dan kami sangat menyambut baik untuk mendayagunakan CGI bagi Pemerintah. Memang sebagaimana biasanya, selalu ada kompetisi di antara sesama kawan dan itu akan terus berlangsung, tetapi Pemerintahlah yang memutuskan apa yang perlu didiskusikan dan kami sangat menyambut baik untuk membantu itu terwujud.

Bisakah Anda memperkirakan apakah Indonesia akan mendapat pinjaman lebih besar atau lebih kecil?
Saya kira bukan saya yang harus menjawab itu. Kita tunggu saja sidangnya nanti.

Sempat ramai dibicarakan tentang defisit Anggaran Pemerintah dan Belanja Negara (APBN). Ada yang berpendapat defisit APBN perlu dilonggarkan untuk memperoleh dana menstimulasi ekonomi. Pendapat Anda?
Indonesia telah mengelola defisit anggarannya dengan baik. Menteri Keuangan yang baru telah mengatakan akan melanjutkan pengelolaan defisit anggaran secara profesional, dan kami percaya itulah yang akan dilakukan. Kami sangat yakin akan pengelolaan kebijakan fiskal Indonesia.

Jadi, Anda setuju dengan pelonggaran defisit APBN, dan sepanjang masih di bawah 3% dari PDB masih dapat ditoleransi?
Saya belum pernah mendengar ada ekonom yang mengatakan defisit APBN sampai 3% dari PDB. Yang saya dengar dari Pemerintah adalah defisit APBN 1%. Dan, itu adalah keputusan beralasan. Alasan kita untuk tidak setuju pada defisit yang besar adalah karena bila defisit besar, utang akan membengkak. Utang Indonesia sudah menurun dengan cepat saat ini. Jadi meskipun dengan ada defisit APBN 1% dari PDB, utang Indonesia akan terus menurun.

Ada yang berpendapat bahwa Indonesia tidak perlu meminjam lagi karena utang akan meningkat. Itu tidak benar. Utang luar negeri Indonesia menurun terus dan setiap pemerintahan memang harus menentukan seberapa besar tingkat penurunan beban utang itu. Pemerintah sudah mengatakan defisit APBN adalah 1% dari PDB. Jadi dengan itu, Pemerintah bisa mengelola utang dengan baik. Bagi kami, terserah kepada Pemerintah menentukan, apakah 1% atau 0. Kami mendukung apa yang ingin dicapai oleh Pemerintah.

Pemerintah telah mencanangkan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran. Bagaimana pendapat Bank Dunia tentang hal ini?
Total pengeluaran Pemerintah dan swasta untuk infrastruktur baru sekitar 3% dari PDB dan itu tidak cukup. Jika Anda ingin membangun jalan, pembangkit listrik, telekomunikasi, 3% tidak cukup. Kita butuh 5% dari PDB. Jadi menurut kami Pemerintah sudah tepat dalam memilih peningkatan pembangunan infrastruktur sebagai salah satu fokusnya. Sumber peningkatan itu datang dari dua sektor, investasi swasta dan investasi Pemerintah. Sektor swasta memang mampu berinvestasi lebih besar dalam hal ini tetapi dengan syarat investasi Pemerintah harus dapat menarik minat investor swasta untuk ikut membawa uangnya sendiri. Jadi Anda harus membuat keseimbangan yang benar dan sinergi yang tepat antara investasi pemerintah dan swasta. Untuk itu kami percaya bahwa infrastructure summit yang dimotori oleh Pemerintah dapat memainkan peran penting dalam membantu memfokuskan perhatian orang pada soal ini. Jadi kami sangat mendukung dan menyambut baik inisiatif tersebut.

Pemerintah tampaknya ingin mendorong agar investor domestik berperan besar dalam hal ini. Apakah itu realistis?
Saya kira dua-duanya, investor domestik dan asing. Mereka berpartner bersama. Tentu saja investor domestik mempunyai kekuatan. Ada tabungan domestik yang dapat membiayai itu dan adalah vital untuk memobilisasi dana domestik seperti yang disarankan oleh Pemerintah. Di beberapa area ada kemungkinan membawa investasi asing berikut dengan keahliannya. Di beberapa negara hal itu terjadi. Tetapi investor domestik mempunyai peran besar.

Bagaimana dengan upaya Pemerintah untuk mendorong bank dan lembaga seperti Jamsostek untuk menerjuni pembangunan infrastruktur, sejauh mana risikonya dalam pandangan Anda?
Banyak hal memang harus dilakukan untuk membuat rencana Pemerintah itu berjalan. Tetapi adalah ide yang baik untuk menanamkan dana jangka panjang kepada investasi jangka panjang. Asuransi, dana pensiun, adalah dana jangka panjang yang memang baik diinvestasikan pada investasi jangka panjang ketimbang digunakan pada investasi jangka pendek.

Maka perlu dipikirkan bagaimana mendorong agar dana jangka panjang ini digunakan untuk investasi jangka panjang. Perlu diciptakan insentif yang tepat, institusi yang tepat dan iklim yang tepat agar mereka mau masuk ke proyek infrastruktur. Mereka tidak boleh dipaksa. Jadi Anda harus menciptakan iklim agar mereka mau masuk.

Anda punya preferensi infrastruktur jenis apa seharusnya yang didorong?
Pemerintah memang masih perlu melakukan banyak hal. Infrastruktur berskala besar, dan juga infrastruktur pedesaan adalah penting untuk diperhatikan. Juga jangan pernah lupa memperhatikan infrastruktur bagi golongan ekonomi rendah. Indonesia punya community driven infrastructure program terbesar dan paling sukses di dunia. Itu harus terus diperluas untuk menciptakan lapangan kerja dan kehidupan ekonomi di masyarakat pedesaan. Tetapi tambahan untuk itu, Anda juga butuh infrastruktur nasional.

Berita baiknya adalah banyak pekerjaan yang harus dan sudah dikerjakan. Kami mengetahui Bappenas telah mengerjakan banyak hal, termasuk dalam melihat infrastruktur apa yang dibutuhkan dan rencana-rencana untuk itu. Penyediaan air bersih (water supply), misalnya, sangat penting. Akses kepada air bersih masih kurang. Kebanyakan orang di Indonesia tidak punya pipa air. Jadi kita perlu banyak infrastruktur.

Sejauh ini Anda tampaknya puas dengan kinerja Pemerintah Indonesia.
Kami tidak mau berkomentar tentang kinerja. Tetapi kami melihat ada banyak kesempatan yang tersedia saat ini. Sepanjang masa krisis lalu banyak keputusan penting harus dan telah dibuat. Sekarang platform bagi pemerintahan baru bisa dibangun. Kami melihat pemerintahan baru mempunyai kesempatan untuk meningkatkan investasi dan mengurangi kemiskinan. Karena itu kami mendukung upaya Pemerintah pada hal ini. Itu hanya mungkin bila ada reformasi di pemerintahan. Pemerintah telah mengemukakan reformasi pemerintahan, dan pemberantasan korupsi adalah agenda tertinggi Pemerintah. Jadi ini adalah berita bagus buat orang Indonesia.

Berita jeleknya, subsidi BBM akan dicabut tahun depan, dan harga BBM naik.
Indonesia beruntung. Ketika harga minyak dunia naik, Indonesia mendapat rezeki karena Indonesia memproduksi minyak. Indonesia harus memilih apakah membelanjakan kenaikan pendapatan dari minyak itu untuk menyubsidi harga minyak dalam negeri atau mengalokasikannya untuk membangun sekolah, jalan dan memberi orang miskin akses kepada kesehatan. Jadi dicabutnya subsidi adalah berita baik, karena ia menjadi sebuah peluang bagi Pemerintah untuk memilih bagaimana membelanjakan uangnya. Uang bisa mengalir ke berbagai hal, kepada pendidikan, fasilitas kesehatan dan lain-lain. Jadi ada peluang bagi Pemerintah dengan adanya penyesuaian harga BBM
tersebut.

Dalam soal menaikkan harga BBM itu, Anda punya saran tentang timing?
Tidak.

Sooner is better?
No comment. Itu terserah kepada Pemerintah.

Pertanyaan terakhir, tidakkah Anda merasa tertekan dengan demikian besarnya sikap kurang suka terhadap Bank Dunia beberapa tahun terakhir ini?
Saya merasa mendapat kehormatan besar bekerja di Indonesia saat ini. Indonesia adalah salah satu negara penting di dunia dan sekarang tersedia banyak peluang di sini. Jadi saya sebagai orang Bank Dunia, merasa sangat diberkati mendapat kesempatan bekerja di sini. Kami tidak punya agenda kami sendiri, kami hanya membantu negara ini mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan ekonominya. ***

(C) Eben Ezer Siadari dan WartaBisnis, No 33, Desember 2004

Dua Kali di Indonesia
Andrew Steer, 52, menjadi country director Bank Dunia untuk Indonesia sejak 6 September 2002. Ini bukan penugasan pertama kalinya di negeri ini. Pada 1980-1983 ia pernah ditempatkan di sini sebagai staf.
Meraih gelar Ph.D. di bidang ekonomi dari University of Pennsylvania, ia pernah menjadi periset dan pengajar di Cambridge University. Bergabung dengan Bank Dunia sejak 1978, aneka posisi sudah ia daki. Sesudah penugasannya yang pertama di Indonesia, ia ikut menangani berbagai isu reformasi ekonomi di Thailand dan Bangladesh. Steer juga pernah menjadi kepala divisi country risk Bank Dunia dan penasihat senior pada departemen riset ekonomi.

Loncatan kariernya yang paling penting adalah ketika ia ditugaskan menjadi direktur dan penulis utama laporan tahunan Bank Dunia tahun 1992, berjudul Development and Environment. Keberhasilannya membuat dia dipromosikan menjadi direktur pada departemen lingkungan Bank Dunia.

Pada 1997, Steer menempati posisi baru sebagai kepala kantor perwakilan Bank Dunia di Vietnam. Di bawah kepemimpinan Steer, Bank Dunia di negeri itu semakin dekat dengan negara donor dan masyarakat sipil dalam melakukan reformasi di bidang perdagangan, pendidikan dan layanan kesehatan.
Sejak tahun 2002, Steer "kembali" ke Indonesia, negeri yang menurutnya telah ia cintai sejak pertama kali mengenalnya. Istrinya, Liesbet, memberinya seorang putri, Charlotte dan putra, Benjamin.

No comments:

Followers

About Me

My photo
suami yang kampungan di mata istrinya, ayah yang sering disandera putrinya untuk mendongeng.