Sunday, October 29, 2006

Kata Prabowo: "Saya tetap Panglima."

(Sebuah Wawancara)
Berfoto seusai wawancara dengan Prabowo Subianto (kanan)



Nama Prabowo Subianto Djojohadikusumo pernah menjadi buah bibir semasa karier militernya. Promosi demi promosi ia dapatkan, hingga sebelum usia 50 (persisnya 47 tahun) ia sudah menjadi salah satu panglima di lingkungan TNI: pada 1998 ia diangkat menjadi Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Ketika Soeharto lengser dan B.J. Habibie naik menjadi Presiden, tak lama kemudian ia pensiun dari militer. Banyak cerita dramatis yang berkembang di seputar berhentinya salah seorang putra begawan ekonomi, Alm Soemitro Djojohadikusumo itu. Namun Prabowo sendiri tampaknya tidak ingin menoleh ke belakang. Pria yang dilahirkan pada 17 Oktober 1951 itu memutuskan untuk terjun sepenuhnya ke dunia bisnis.


Setelah sempat lama di luar negeri, membantu bisnis adiknya, Hashim Djojohadikusumo, ia pulang ke Indonesia. Di sini ia memimpin Nusantara Energi, sebuah grup bisnis yang bergerak dalam pengelolaan dan perdagangan beberapa komoditas sumber daya alam. Mulai dari kelapa sawit, minyak bumi, pertambangan, pulp dan juga perikanan. “Grup bisnis Nusantara Energy sebenarnya hanya pengelompokan secara tak resmi,” kata Prabowo, menjelaskan.


Prabowo adalah pebisnis supersibuk, banyak perusahaan yang membutuhkan pengawasan dan pengelolaannya. Misalnya, di Karazanbasmunai, sebuah perusahaan berkedudukan di Kazakhstan, dia duduk sebagai komisaris. Lalu ada PT Tidar Kerinci Agung sebuah perusahaan prodsuen minyak kelapa sawit dimana ia duduk sebagai presiden direktur. Di Nusantara Energy ia juga duduk sebagai CEO. Posisi yang sama ia pegang di PT Jaladri Nusantara, sebuah perusahaan perikanan. Prabowo tak mau menyebutkan seberapa besar sekarang grup bisnis yang ia pimpin itu. Ia sendiri mengaku ada 12 eksekutif yang langsung melapor kepada dirinya. Tidak selalu ada rapat rutin dengan mereka. “Tetapi kalau ada hal mendesak, saya bisa bekerja dengan tim beranggotakan tiga atau empat orang. Dengan mereka bisa bertemu dua sampai tiga kali dalam sehari,” kata dia.

Ia mengaku tahun-tahun awal sebagai pengusaha adalah masa penyesuaian bagi dirinya. Tetapi setelah itu ia menyadari bisnis dan militer banyak persamaannya. Ia bahkan merasa terlambat untuk terjun ke bidang ini karena ternyata bisnis demikian menarik. Tak mengherankan jika ketika Partai Golkar mencalonkan dirinya sebagai salah satu kandidat Presiden, ia berpendapat basis entrepreneur sangat menentukan sukses tidaknya seorang pemimpin di Indonesia.

Untuk mengetahui kiprahnya saat ini visinya sebagai calon Presiden, di kantornya, di Gedung Bidakara Jakarta, Kamis 11 Desember 2003, Prabowo menerima Eben Ezer Siadari dam Deden Setiawan serta wartawan foto Alfian Kartim, untuk sebuah wawancara. Setelah cukup lama membereskan urusan bisnisnya, ia akhirnya dengan rileks menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Setelah satu jam dan jarum jam menunjukkan angka tujuh malam, ia menyudahi wawancara. “Saya masih harus bekerja nih,” kata dia seraya menuju meja kerjanya. Beberapa dokumen terletak di sana untuk ia tandatangani. Berikut ini petikan wawancara tersebut.

Setelah pensiun dari militer, kini Anda terjun ke dunia bisnis. Dapatkah Anda menceritakan apa saja kegiatan Anda sekarang?

Prabowo: Terimakasih. Memang setelah saya keluar dari tentara, saya terjun ke dunia wiraswasta, sebagai pengusaha. Saya ikut adik saya Pak Hashim (Hashim Djojohadikusumo, red) di perusahaan minyak. Boleh dikatakan beberapa tahun pertama bagi saya merupakan tahun-tahun penyesuaian. Saya banyak melihat, banyak mendengar, banyak mengikuti proses, saya juga waktu itu berkiprah di Timur Tengah, Malaysia, dan setelah saya terjun di bidang bisnis, saya melihat bahwa esensi dari bisnis ini banyak persamaan dengan dunia kemiliteran. Bahkan saya mendapatkan pencerahan. Saya melihat sendi kehidupan bernegara adalah sesungguhnya ekonomi. Dan karena saya ini amateur historian, hobi saya belajar sejarah, setelah mendalami sejarah perang, saya baru yakin dan sadar bahwa semua perang selama kehidupan manusia asal usulnya adalah merebut sumber ekonomi.

Maksudnya?

Ya, merebut sumberdaya ekonomi. Apakah sumberdaya air, sumberdaya makanan, sumberdaya energi, sumberdaya lahan untuk hidup rakyatnya. Semua perang karena merebut sumberdaya ekonomi. Dapat dikatakan kadang-kadang negara perlu lahan perang, perlu ada casus belli. Intinya adalah sumber daya ekonomi. Belanda datang ke kepulauan Nusantara ini utamanya adalah untuk menguasai sumber daya ekonomi yang ada di Nusantara. Karena itu saya melihat banyak persamaan pendidikan saya sebagai militer, latar belakang sebagai komandan pasukan, dengan yang dibutuhkan oleh pemimpin-pemimpin swasta. Dan bisa kita lihat, di dunia bisnis, istilah-istilah yang digunakan juga adalah terminologi militer. Organisasinya juga banyak mencontoh organisasi militer.

Kalau kita lihat sekarang di Amerika mereka menggunakan istilah chief of executive officer (CEO), chief of financial officer (CFO), jadi pemimpin manajemen dikatakan perwira. Nilai keperwiraan, nilai leadership yang sangat dibutuhkan dalam organisasi-organisasi bisnis dimana-mana. Dengan itu saya melihat kapasitas saya untuk mengorganisir, pengalaman saya di bawah tekanan, kemudian kalau di militer harus cepat, punctual on time, itu bermanfaat sekali waktu terjun ke dunia swasta. Sekarang saya membersihkan beberapa perusahaan yang baik, tetapi manajemennya mungkin tersendat-sendat. Saya juga banyak belajar, banyak tantangan dan rintangan. Tantangan dan kesulitan ini yang membuat saya tangguh.

Tantangan dan rintangan seperti apa?

Esensinya menurut saya sama. Bad management. Bad corporate governance. Intinya, apa itu? Katakanlah budaya maling, kalau ada perusahaan fundamentalnya baik, tetapi rugi, itu tidak ada jawaban. Pasti ada kebocoran. Manajemen yang benar adalah manajemen yang bisa mengendalikan kebocoran itu jangan sampai terjadi.

Anda memimpin grup bisnis bernama Nusantara Energy. Bisa dijelaskan sejarahnya?

Yah, itu pengelompokan yang tidak formal. Karena saya patriot, maka saya gunakan nama Nusantara. Untuk tetap mengingatkan bahwa saya ini pejuang. Saya kira dimana-mana demikian. Ekonomi Jepang maju karena pengusaha-pengusaha Jepang memandang pengusaha sebagai samurai ekonomi. Begitu juga di Suriah. Pengusaha itu sebetulnya adalah ujung tombak pembangunan suatu bangsa. Seharusnya demikian. Saya bangga jadi pengusaha. Pernah ada anak buah saya datang ke kantor. Mungkin mereka sayang kepada saya. Bapak masih muda seharusnya masih tetap jadi Panglima. Saya koreksi mereka. Lho, siapa bilang saya bukan Panglima. Saya tetap jadi Panglima sekarang. Saya masih memimpin karyawan saya. Karyawan saya di dalam negeri 7000 orang. Jadi saya tetap Panglima di bidang ekonomi. Jadi tetap fungsi kepanglimaan, fungsi leadership tetap ada walau pun seragamnya lain. Sekarang pakai dasi. Begitu.

Grup Nusantara ini tampaknya banyak terjun pada komoditas sumber daya alam. Ada alasan khusus mengenai hal ini?

Kita berjuanglah, kita berusaha, kita mencari peluang yang ada. Memang fokus strategi saya dalam resources. Mungkin itulah yang paling sederhana. Saya belum begitu ahli dalam bidang…. Apa namanya itu? The new economy…, dotcom atau IT. Kekuatan Indonesia kan di resources. Saya kira kita berjuang disitu, kita kelola dengan baik, ada nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, menghasilkan devisa, kita kan berperan dalam perkembangan ekonomi bangsa.

Banyak yang berpendapat Anda sangat nasionalistis. Anda mengeritik IMF. Mengapa? Apakah sikap itu Anda pilih secara sadar?

Sebenarnya bangsa kita lahir dari perjuangan yang panjang dan cukup heroik. Kemerdekaan kita rebut melalui perang kemerdekaan. Proklamasi disusul oleh perang kemerdekaan yang cukup lama, lima tahun. Kebetulan nafas keluarga saya adalah nafas republik. Republican. Paman-paman saya gugur untuk republik. Nafas kita nafas merah putih. Jadi pengertian kita tentang pembangunan bangsa adalah bangsa ini berdiri, bangun sebagai bangsa yang sejahtera.

Tidak ada bangsa yang sejahtera kalau tidak bisa makan. Itu adalah keyakinan saya. Kehormatan suatu bangsa yang merdeka adalah bangsa yang bisa menyejahterakan rakyatnya, kalau ada bangsa yang menyatakan merdeka tapi rakyatnya tetap miskin, menurut saya, bangsa itu tidak terhormat. Saya kira misi saya itu. Visi nasionalis, visi Merah Putih. Sebetulnya tahun 60-70-an itu bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang bangga terhadap bangsanya, bangsa yang berani berdiri sendiri, bangsa yang pernah mengatakan go to hell with your aid, jadi kita cukup dipandang di Asia Tenggara. Lho kok di tahun 90-an kita kalah sama Thailand, Malaysia dalam mempertahankan ekonomi kita sendiri? Seolah-olah kita takluk dan menyerah kepada kekuatan asing. Banya diantara para pengambil keputusan di bidang ekonomi,  menurut saya, mengambil sikap tidak patriotik.

Misalnya?

Tuntuk pada IMF, padahal Malaysia tidak. Itu kan perlu kita pertanyakan. Sekarang banyak tokoh-tokoh Barat mengakui bahwa IMF sebetulnya berbuat kesalahan dalam membantu Indonesia.

Apakah yang Anda maksud mereka yang selama ini dikenal Mafia Berkeley?
Saya katakan mereka sangat berperan dalam kebijakan, memberi nasihat kepada Presiden. Yang mengatakan Mafia Berkeley itu bukan saya, tetapi Anda.

Sebagai pengusaha, bagaimana Anda menjalankan prinsip nasionalisme Anda?

Saya melakukan usaha saya sebagai patriot. Saya cinta tanah air. Sebagai contoh, kadang-kadang ada pelajaran ekonomi yang diajarkan dalam, apa itu? Business School dimana-mana, saya tidak mau terapkan. Contohnya salah satu sikap saya adalah berjuang sekeras tenaga untuk tidak PHK anak buah. Karena saya memandang karyawan adalah sebagai keluarga. Jadi kalau ekonomi sulit, PHK karyawan. Ini pandangan dari para MBA. Mereka bilang, kadang-kadang ada pekerjaan yang tidak efisien, bisa dikerjakan oleh 3000 orang tetapi jumlah karyawan ada 5000. Tidak efisien. Kan begitu pandangan para MBA itu. Tetapi kita kan hidup di lingkungan kita. Kalau ekonomi baik kita rekrut karyawan, kalau ekonomi kita jelek, kita pecat karyawan, lantas kita suruh mereka makan apa? Nanti mereka jadi garong, perampok semua. Kalau bisa kita bertahan sampai ekonomi membaik. Nah, ini sering bertentangan dengan pandangan para MBA itu. Banyak direktur saya bingung. Tetapi saya bilang, sudah lah. Kita bertahan, mungkin pengeluaran lebih banyak sekarang. Kita punya tanggung jawab sosial.

Dapat Anda sebut contoh yang Anda anggap sukses sebagai pengusaha nasionalis seperti itu?

Saya punya role model, saya punya idola, adalah Tata, pengusaha India, yang dinilai oleh banyak analis Barat tidak efisien. Tetapi dia menganggap dia punya misi sosial. Jadi dia bikin rumah sakit, sekolah untuk karyawannya. Dan dinilai tidak efisien. Dia bilang itu misi sosialnya. Kadang-kadang inilah yang bertentangan. Jadi saya berpandangan sebagai pengusaha kita perlu misi dan hati nurani sosial. Pikiran-pikiran ini juga sudah mulai meluas di Barat. Kita tidak bisa menerapkan bisnis murni di lingkungan Indonesia.

Setelah menjadi tentara kemudian menjadi pengusaha, Anda mencalonkan diri sebagai Presiden. Basis kompetensi apa yang akan Anda pakai jika terpilih kelak, militer atau entrepreneur?

Saya kira sama. Menurut saya, basis sebagai patriot. Basis militer mengabdi kepada bangsa begitu juga basis pengusaha. Bagi saya itu tidak terlalu dipersoalkan. Dua-duanya memberi landasan pengalaman yang baik. Dan saya kira masalah yang menonjol atau yang lebih dibutuhkan adalah pengetahuan tentang bisnis, bekerjanya bisnis, bukan ilmu ekonomi yang teoritis. Tapi ilmu ekonomi yang nyata. Sebagai pelaku. Itu yang penting. Terus terang saya tidak punya gelar MBA. Tapi saya belajar dari praktek. Saya melihat entrepreneur yang hebat di Asia, tidak pernah belajar di Business School. Saya tidak tahu apakah ini paradoks.

Nah, apa yang terjadi pada tahun 1997-1998, yang saya katakan banyak pengambil keputusan kita di bidang ekonomi, mereka tidak mengerti kehidupan bisnis yang nyata. Latar belakangnya teoritis, bukan praktisi. Yang direkrut adalah orang pintar di kampus langsung jadi pengelola publik di ekonomi. Kalah sama sang manajer, kalah sama pemain pasar. Akhirnya tidak bisa baca tren, tidak bisa ambil keputusan tepat. Akhirnya kita kehilangan banyak sekali. Sekarang masih terjadi pembobolan bank. Sepertinya kita tidak belajar-belajar. Katanya keledai tidak akan masuk ke lubang yang sama dua kali. Tetapi kita sepertinya masuk terus ke lubang yang sama. Kita harus introspeksi diri.

Dalam mendorong pemulihan ekonomi, apa yang menurut Anda harus dilakukan?

Jawabnya adalah nasionalisme ekonomi. Kalau pengambil keputusan di bidang ekonomi dan jajarannya itu selalu memperhitungkan dan mengutamakan kepentingan nasional, saya kira kita bisa cepat pulih. Nyatanya Thailand bisa, Malaysia bisa.

Kita punya banyak utang sehingga harus berbaik-baik dengan kreditor. Anda tidak memperhitungkan ini?

Thailand tadinya juga banyak utang seperti yang tadi saya katakan. Kalau nasionalisme jalan kita bisa cari kiat-kiat. Kita bukan negara yang terlalu miskin. Kita punya sumber daya yang besar. Tapi kalau sumber daya tidak bisa kita jaga, ya bagaimana kita bisa pulih. Kita punya resources yang besar, kita punya gas, punya laut, kita punya iklim yang baik, ada competitive advantage. Tapi kalau kita tidak bisa menjaga, ya bagaimana?

Kita juga sudah terikat dengan WTO dan sudah diharuskan membuka pintu bagi produk-produk dari berbagai negara. Bagaimana Anda melihat ini sebagai pengusaha?

Kita harus tetap waspada, jeli dan lihai. Memang kita tidak bisa menghindari tren dunia ke arah globalisasi. Tetapi kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita harus punya keberanian untuk membela kepentingan nasional. Harus mengkaji mana yang kita mampu.

Jadi Anda setuju dengan pembatasan impor, misalnya?

Saya setuju. Beras, kita harus mengutamakan petani kita, kita harus lindungi, bimbing dan kembangkan mereka. Mereka adalah produsen kita. Bangsa yang bodoh yang tidak membela produsennya. Dalam arti yang baik. Bukan berarti membuat mereka manja. Kalau kita lihat kehidupan petani kita, masa’ kita bilang mereka manja? Masa’ 200 juta orang makannya harus tergantung pada asing? Ini kebodohan besar bagi bangsa. Kita lihat Amerika, Eropa dan Jepang melindungi petaninya.

Apakah Anda tidak takut akan mendapat aksi balasan serupa? Apalagi Anda banyak bergerak di bidang ekspor?

Nyatanya kita ada kuota dimana-mana. Bener nggak? Sepatu, tekstil kena kuota. Sebetulnya banyak cara. Katakanlah kita tidak melarang impor, kita jangan memfasilitasinya. Apalagi mengizinkan penyelundupan. Disitu kita butuh pemerintahan yang kuat.

Jika Anda terpilih jadi Presiden, apa prioritas Anda di bidang ekonomi?

Prioritas pertama adalah menciptakan lapangan kerja. Menurut saya harus bersamaan dengan memprioritaskan sektor pertanian dan agroindustri karena pangan adalah masalah strategis. Masalah pangan bagi saya ukuran kemerdekaan suatu bangsa. Itu yang harus diutamakan dan pertanian bisa menyerap lapangan kerja yang besar.

Pada pengujung Pemerintahan Soeharto beliau punya perencanaan strategis mencetak satu juta hektar sawah. Itu menurut saya perlu kita lanjutkan. Mungkin tidak di satu tempat, mungkin tidak di lahan gambut, tetapi intinya kita perlu mencetak satu juta hektar sawah. Kenapa? Pertama, kita harus menghemat devisa, tidak perlu impor beras. Kedua, menciptakan lapangan kerja. Kemudian kita perlu agrobisnis yang lain, kelapa sawit yang nilai ekonomisnya lebih besar dari minyak bumi. Ini adalah renewable resources, sustainable dan juga menyerap lapangan kerja yang besar, selain devisa yang besar dan memiliki competitive advantage. Kita punya matahari, curah hujan yang besar, tanah yang cocok untuk kelapa sawit.

Setelah itu kita perlu perumahan murah untuk rakyat dan menciptakan pekerjaan. Membangun 600 ribu rumah, dalam setahun, itu perlu 15 pekerja per rumah, artinya sembilan juta orang siap bekerja. Artinya sektor riil bangkit, orang bekerja beli makan, berarti petani bisa jual produksinya. Beli pakaian, industri pakaian dan tekstil hidup. Dan ekonomi segera berputar. Ada mulptiplier effect yang besar. Apa yang terjadi ketika depresi di Amerika? Roosevelt juga ngasih stimulus. Bukan mempersulit investasi.

Ngomong-ngomong, sebagai pengusaha, di usia berapa Anda akan pensiun?

Di bisnis kita harus berkarya semaksimal mungkin. Saya berproduksi sekuat dan semampu saya. Tokoh-tokoh bisnis itu ada yang sampai 90 tahun. Li Kha Sing umur berapa sekarang?

Anda ingin seperti dia?

Saya kira kita harus kagum dengan prestasi seperti itu. Seperti Tata tadi.

Jadi boleh kami katakan, suatu saat kita akan melihat seorang konglomerat bernama Prabowo?

Bukan konglomerat, tetapi pejuang di bidang ekonomi. Fenomena pembangunan bangsa adalah, ini studi dari Harvard University, bahwa setiap negara baru, the first fifty years adalah dipimpin oleh pejuang, prajurit, aktivis. Sesudah itu adalah para entrepreneur. Pemimpin di sini mungkin bukan pemimpin formal. Tidak perlu jadi Presiden, tidak perlu jadi menteri. Kalau di Amerika, Bill Gates, Warren Buffet, Turner, tidak berangan-angan jadi menteri, tetapi pengaruh dia, peranan dia, mungkin lebih dari seorang Presiden. Mungkin setiap Presiden memanggil mereka karena mereka pelaku ekonomi yang besar.

Sehubungan dengan pencalonan Anda sebagai Presiden, terdengar kabar Mbak Tutut juga akan dicalonkan. Apa komentar Anda?

Demokrasi kan semuanya boleh mencalonkan dan dicalonkan. Rakyat jadi banyak pilihan.

Sempat berkomunikasi dengan beliau?

Kebetulan saya belum berkomunikasi.

Kalau dengan Pak Harto?

Sekali-kali saya pasti sowan.

Pencalonan Anda apakah sepengetahuan Pak Harto?

Saya kira, jangankan Pak Harto, banyak orang baca koran dan televisi. Masa’ beliau tidak tahu.***


WartaBisnis 11/I/Januari 2004

No comments:

Followers

About Me

My photo
suami yang kampungan di mata istrinya, ayah yang sering disandera putrinya untuk mendongeng.