Wednesday, October 19, 2011

Boleh 'Kan, Jatuh Cinta dengan Perempuan Hitam Manis Ini

Tahun ini tiga pemenang nobel untuk perdamaian semuanya perempuan. Salah satunya bernama Leymah Gbowee. Perjuangan wanita Afrika aktivis perdamaian kelahiran tahun 1972 ini, telah turut mengakhiri perang saudara di negaranya, Liberia. (dua pemenang lainnya adalah Ellen Johnson Sirleaf, presiden perempuan pertama Liberia dan Tawakel Karman, perempuan wartawan dan aktivis perdamaian dari Yaman). 
 
Sebetulnya, sambil menuliskan ini diam-diam di dalam hati ada sebentuk harapan sekaligus protes. Harapan itu adalah, semoga ada stasiun televisi yang mau menyiarkan liputan-liputan tentang Leymah Gbowee, perempuan yang sangat mengagumkan ini. Meskipun saya sadar ini mungkin hanya ‘harapan yang nyaris tanpa harapan’ bisa menembus tembok para pengambilan keputusan di media massa mainstream, tetap saja perlu untuk disampaikan. Siapa tahu tembok itu justru yang berbicara sendiri. Harapan saya ini sekaligus juga dapat disebut protes, karena televisi sejauh ini saya lihat selalu lebih tertarik menyiarkan soal ratu-ratuan kecantikan –bahkan sampai-sampai ada instansi pemerintah yang mensponsori mengundangnya ke Indonesia— sedangkan perihal bagaimana pemilihan dan pengumuman pemenang hadiah nobel, liputan televisi kita masih sedikit sekali. Berita-berita tentang ini selalu hanya selintas.

Kembali ke soal Leymah Gbowee, dia ini patutlah menjadi kebanggan bangsanya. Sudah banyak penghargaan diberikan kepadanya atas keberanian dan kepiawaiannya menggalang gerakan perdamaian diantara kaumnya. Untuk itu pada tahun 2007 ia dianugerahi penghargaan Blue Ribbon for Peace dari John F. Kennedy School of Government at Harvard University. Ia juga merupakan penerima pengharaan Women’s eNews 2008 Leaders for the 21st Century Award. Pada tahun 2009, ia mendapatkan anugerah Gruber Prize for Women’s Rights dan juga anugerah John F. Kennedy Profile in Courage Award. Pada tahun 2010, ia dianugeragi penghargaan Living Legends Award for Service to Humanity dan John Jay Medal for Justice dari the John Jay College of Criminal Justice. Masih pada tahun yang sama, ia memperoleh penghargaan Joli Humanitarian Award dari Riverdale Country School. Sedangkan pada tahun 2011, ia dianugerahi Villanova Peace Award oleh Villanova University

Pada tahun 1989 di umur 17, Leymah pindah ke Monrovia, tempat dimana pertama kali perang saudara di Liberia meletus yang menewaskan ratusan ribu orang. Dia kemudian mengikuti pelatihan dan menjadi konsuler trauma perang sepanjang masa yang menyedihkan itu, bekerja sama dengan para mantan serdadu Charles Taylor, presiden sekaligus diktator di balik perang saudara tersebut.

Berada di tengah perang saudara yang mengerikan, Leymah Gbowee akhirnya menyadari bahwa perubahan harus dimulai. Ia berpendapat, jika ada satu perubahan yang bisa terjadi di masyarakat, pastilah itu dimulai dari para ibu-ibu. Jangan dilupakan, Leymah Gbowee adalah ibu dari enam orang anak.

Pada tahun 2002, di usia 30, sebagai pekerja sosial ia mengorganisasikan sebuah gerakan yang diberi nama Women of Liberia Mass Action for Peace. Gerakan perdamaian ini diawali dengan aktivitas berdoa dan bernyanyi di pasar ikan dan semuanya oleh kaum perempuan. Tujuannya adalah agar presiden Liberia kala itu, Charles Taylor, bersedia berbicara dengan pemberontak dalam upaya menghentikan konflik. Lebih jauh, gerakan yang diikuti oleh lebih dari 3000 wanita kristen dan muslim itu, juga melansir tuntutan yang kedengaran aneh tetapi justru efektif. Mereka mengancam akan mogok berhubungan sex dengan suami-suami mereka jika konflik tak kunjung mereda.
Gerakan dengan tuntutan yang kreatif ini berhasil memaksa Charles Taylor mengubah pendiriannya. Ia kemudian membuka dialog dengan kelompok pemberontak, yakni Liberians United for Reconciliation and Democracy di Ghana. Perang berakhir pada tahun 2003, dan pada saat yang sama, Charles Tayor ditahan dengan tuduhan melakukan kejahatan perang.

Gerakan yang dipelopori Leymah Gbowee turut memberi andal bagi terlaksananya Pemilu di Liberia, yang kemudian memilih Ellen Johnson Sirleaf sebagai presiden perempuan pertama di Liberia. Leymah Gbowee juga termasuk tokoh yang mendukung Ellen Johnson pada Pemilu 2011.

Pada suatu hari di bulan Juni 2010, wartawan Christian Science Monitor (CSM) mewawancarai Leymah Gbowee di kantor pusat PBB di New York. Wawancara itu, menurut saya sangat menarik, dan karena itu beberapa bagian diantaranya (tidak semuanya) saya terjemahkan di sini. Semoga kita makin mengenal beliau, dan makin mengenali kehebatan kaum perempuan sekaligus juga makin menyadari bahwa kehebatan perempuan itu bukan hanya di panggung-panggung kontes kecantikan dan kekenesan.
CSM: Bagaimana pengalaman Anda di Liberia mendorong Anda untuk terus bekerja di Ghana dan negara-negara lain? Apa tujuan utama Anda?

Gbowee: Setelah bekerja untuk para perempuan Liberia beberapa tahun, saya menyadari bahwa untuk membangun perdamaian dan dalam aktivisme perdamaian saya menginginkan perlunya peranan perempuan dalam proses tersebut. Itu saya anggap panggilan bagi diri saya.
Apa keuntungan terbesar jika kaum perempuan dilibatkan langsung dalam proses politik?

Pertama, hal itu akan meruntuhkan stereotip keterlibatan perempuan dalam proses politik. Kedua, hal itu merupakan pembaruan energi: keterlibatan perempuan dalam proses seperti ini menciptakan sense of hope bahwa kita bergerak dan berubah dari orde yang lama ke orde yang baru. Saya telah menyaksikan hal tersebut di berbagai komunitas, dimana para perempuan bangkit dan mengambil keputusan sambil berkata, “Cara ini yang saya inginkan.”

Ketiga, dengan melangkahnya para perempuan dari peran tradisionalnya, hal itu akan menciptakan sense of urgency pada para pemimpin politik (pria). Ini akan mendorong kegelisahan pada mereka dan berkata, “kita harus berbuat sesuatu, kalau tidak, mereka (perempuan) akan mengambilnya dari kita.”

Pada tahun 2003, Anda mendatangani persiden (kala itu) Charles Taylor untuk menuntut terciptanya perdamaian dan meminta dilibatkannya perempuan dalam proses. Bagaimana menurut Anda kemajuan keterlibatan perempuan sejak saat itu?

Saya belum melihat kemajuan besar. Kemajuan sangat sangat lambat. Semestinya kita sudah mempunyai perempuan mediator yang lebih banyak dan kita juga semestinya sudah bisa menyaksikan semakin banyak perempuan di meja-meja negosiasi. Asumsi yang umum ialah PBB seharusnya telah melakukan hal itu terus-menerus dan akan memperbaikinya. Tetapi saya belum melihat hal itu.

Apa yang harus dilakukan untuk mempercepat kemajuan yang diharapkaan? Aksi mogok yang lebih besar lagi?

Kita para perempuan aktivis, secara global harus mau duduk bersama sebagai sebuah konstituensi dan berkata, “Ini yang sudah kita capai sekarang, dan ini yang harus kita capai dua atau tiga tahun lagi.” Bahasa yang kita gunakan seharusnya sama di setiap level, dari Eropa, Afrika hingga Amerika.

Liberia ialah negara Afrika pertama yang memiliki presiden perempuan. Apakah ini membuat Liberia sebagai yang paling maju dibanding negara-negara Afrika lainnya?

Seorang perempuan presiden tidak dengan sendirinya mengubah struktur patriarki yang sudah melembaga. Kebanyakan anggota parlemen kami masih pria, demikian juga di kabinet. Jangan pula dilupakan, kami masih mempunyai kesenjangan yang luar biasa –dalam perang selama 14 tahun, wanita bukan yang dominan berada di ruang kelas. Jadi kita masih menghadapi tantangan yang harus ditaklukkan.

Ketika Anda menghadap Charles Taylor dulu, usia Anda baru 30 tahun. Apa yang ada dalam pikiran Anda waktu itu?

Kemarahan yang luar biasa. Dalam hati saya berkata, “Orang ini bertanggung jawab atas kematian dan lenyapnya begitu banyak orang dan bertanggung jawab atas kemunduran negara kami. Orang ini duduk di sini tanpa penyesalan, dan saya harus menyampaikan pernyataan ini kepadanya secara langsung dan tepat, sebab saya mungkin tidak pernah lagi memiliki kesempatan untuk memberitahunya.

Apakah ketika itu dia menatap mata Anda?
Sayangnya dia memakai kacamata hitam waktu itu.

***
Membaca wawancara ini, saya pun jatuh cinta pada Leymah Gbowee. Boleh kan?
© eben ezer siadari

1 comment:

ibu rasia said...

KAMI SEKELUARGA TAK LUPA MENGUCAPKAN PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH S,W,T
dan terima kasih banyak kepada AKI atas nomor yang AKI
beri 4 angka [7978] alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus .
dan alhamdulillah sekarang saya bisa melunasi semua utan2 saya yang
ada sama tetangga.dan juga BANK BRI dan bukan hanya itu KI. insya
allah saya akan coba untuk membuka usaha sendiri demi mencukupi
kebutuhan keluarga saya sehari-hari itu semua berkat bantuan AKI..
sekali lagi makasih banyak ya AKI… bagi saudara yang suka PASANG NOMOR
yang ingin merubah nasib seperti saya silahkan hubungi KI JAYA,,di no (((085-321-606-847)))
insya allah anda bisa seperti saya…menang NOMOR 750 JUTA , wassalam.























Followers

About Me

My photo
suami yang kampungan di mata istrinya, ayah yang sering disandera putrinya untuk mendongeng.